Total Tayangan Halaman

Kamis, 30 Oktober 2025

6 Sekolah Mitra SIRAMBI Tembus Final, Lomba CTCF dan Tahfiz Jadi Ajang Inspirasi Generasi Emas dijadwalkan 04 November 2025

Aceh Jaya, 30 Oktober 2025  — Di tengah semilir angin pesisir dan hijaunya hamparan sawah Tanoh Anoe, semangat pendidikan Islam berbalut inovasi kembali berkobar. SMP Swasta Darun Nizham, sekolah pelopor SIRAMBI (Sekolah Islam Berbasis Industri), menggelar lomba Cerdas Tangkas Cermat Familiar (CTCF) dan Tahfiz SD MI TPA dan SMP Mitra telah memasuki edisi tahun ke-3 yang menyatukan 16 sekolah dari Aceh Jaya dan Aceh Barat. Dari seluruh peserta, enam sekolah terbaik akhirnya melangkah ke babak final dengan penuh semangat dan harapan.

Mereka adalah: SDN 4 Teunom Desa Padang Kleng, TPA Darul Istiqamah Gampong Baro, MIS Tuwie Kareng, MIN 5 Aceh Jaya Desa Keude Panga, SDN 3 Pasie Raya Desa Pasi Tubee, dan MIN 12 Aceh Jaya Desa Ceuracee. Kegiatan yang berlangsung dari 22 Oktober hingga 4 November 2025 ini bukan sekadar lomba, melainkan panggung inspirasi pendidikan Islam modern . Kepala SMP Darun Nizham, Ridwan, S.Pd. I., MA., M.Pd. , yang juga kandidat doktor pendidikan, tampak haru sekaligus bersemangat saat menyaksikan antusiasme peserta dari berbagai pelosok daerah. “Saya sangat terharu dan bangga. Lomba ini bukan sekedar ajang kompetisi, tapi wadah untuk menumbuhkan semangat inovasi dan karakter Islami dalam dunia pendidikan kita,” ungkap Ridwan dengan mata berbinar.

Ketua Panitia, Sulaiman, S.Pd., menambahkan bahwa kegiatan ini adalah bentuk nyata pelatihan karakter Islami dan pelestarian budaya di era digital. “Ini lebih dari sekedar lomba antar sekolah. Nilai-nilai religius, sportivitas, dan kerja sama yang terkandung di dalamnya adalah warisan moral yang harus kita jaga,” ujarnya penuh semangat. Menariknya, lomba kali ini juga dimeriahkan dengan peran aktif siswa SMP Darun Nizham sebagai panitia muda yang terjun langsung ke lapangan. Salah satunya, Rasyidah dan Nur Hafijah, mencuri perhatian karena keterlibatannya dalam kegiatan sosial dan koordinasi antar sekolah mitra.

Selain lomba, kegiatan ini akan ditutup dengan resepsi akbar 6 November 2025 yang dirangkai dengan pengukuhan Inovasi SIRAMBI, penandatanganan MoU, dan penandatanganan prasasti oleh Bupati Aceh Jaya, Safwandi, S.Sos. Tak kalah menarik, panitia juga akan memberikan penghargaan kepada 27 tokoh inspiratif lintas sektor — mulai dari anggota DPRA, insan pers, hingga guru purnatugas — sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka terhadap pendidikan dan masyarakat. Suasana kebersamaan terasa begitu kuat. Para peserta lomba tidak hanya menunjukkan kemampuan intelektual dan hafalan Al-Qur'an, tetapi juga menghidupkan semangat kompetisi sehat yang mencerminkan nilai-nilai keislaman dan kemandirian. “Kami ingin menunjukkan bahwa sekolah Islam mampu melahirkan generasi yang inovatif sekaligus religius,” tutup Ridwan penuh keyakinan.

Melalui lomba CTCF dan Tahfiz ini, SMP Darun Nizham bersama mitra SIRAMBI berhasil membuktikan bahwa pendidikan bukan hanya tentang angka dan nilai, tetapi tentang membangun karakter, kecintaan pada ilmu, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial. Sebuah langkah kecil dari Aceh Jaya, namun dengan dampak besar bagi masa depan pendidikan Islam di Indonesia.

   Ridwan dan Redaksi angkasanew.com

Jumat, 24 Oktober 2025

Darun Nizham Raih Sertifikat HKI di Hari Ekonomi Kreatif Nasional Momentum Inovasi Pendidikan Islam Berbasis Industri


Aceh Jaya
— Tanggal 24 Oktober menjadi momen istimewa bagi pelaku industri kreatif di seluruh Indonesia. Hari itu diperingati sebagai Hari Ekonomi Kreatif Nasional (Hekrafnas) , sebuah perayaan untuk menghormati semangat inovasi dan kontribusi para pelaku ekonomi kreatif terhadap kemajuan ekonomi bangsa. Namun, tahun ini peringatan tersebut terasa lebih spesial di lingkungan pendidikan, khususnya bagi SMP Swasta Darun Nizham yang berhasil meraih sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas inovasi pendidikan bertajuk SIRAMBI – Sekolah Islam Berbasis Industri .

 Penetapan Hekrafnas sendiri menjadi simbol pengakuan atas peran strategis ekonomi kreatif dalam membangun kemandirian ekonomi nasional. Pemerintah mendorong generasi muda untuk terus berinovasi di berbagai sektor seperti kuliner, fesyen, desain, musik, film, hingga pendidikan berbasis teknologi. Melalui kolaborasi lintas sektor, Indonesia diharapkan mampu menciptakan ekosistem kreatif yang berdaya saing global dan tetap melekat pada identitas budaya bangsa.

 Di tengah semangat nasional tersebut, Darun Nizham menorehkan prestasi dengan menerima sertifikat HKI untuk program inovatifnya, SIRAMBI (Sekolah Islam Berbasis Industri) . Program ini merupakan model pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan keterampilan industri modern. Melalui SIRAMBI, sekolah berupaya mewujudkan generasi muda yang religius, kreatif, mandiri, dan siap menghadapi tantangan era digital.

Kepala Sekolah Darun Nizham menyampaikan rasa terima kasihnya atas penghargaan tersebut. “Penerimaan sertifikat HKI ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi dalam dunia pendidikan tidak kalah penting dibandingkan sektor industri lainnya. Kami berharap SIRAMBI dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain dalam mengembangkan kurikulum yang adaptif dan visioner,” ujarnya.

Sertifikat HKI yang diterima Darun Nizham menegaskan bahwa ide dan sistem pembelajaran yang dikembangkan memiliki nilai kebaruan dan orisinalitas tinggi. Inovasi SIRAMBI dinilai mampu menghubungkan pendidikan Islam dengan praktik kewirausahaan serta dunia industri, sebuah langkah progresif di tengah tantangan transformasi pendidikan nasional.

Momentum peringatan Hari Ekonomi Kreatif Nasional ini semakin bermakna dengan hadirnya institusi pendidikan seperti Darun Nizham yang berperan aktif dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif berbasis pengetahuan. Kreativitas tidak lagi hanya dimiliki oleh pelaku bisnis atau seniman, melainkan juga bagian penting dari strategi pendidikan menuju Indonesia Emas 2045.

Dengan prestasi tersebut, Darun Nizham membuktikan bahwa dunia pendidikan mampu menjadi motor penggerak inovasi. Melalui kolaborasi, kreativitas, dan semangat berkarya, sekolah ini menanamkan nilai sehingga menciptakan karya bukan hanya soal ide, tetapi juga keberanian untuk mewujudkannya.

Hari Ekonomi Kreatif Nasional pun menjadi pengingat bagi semua pihak — bahwa kekayaan terbesar bangsa ini bukan hanya sumber daya alam, melainkan juga daya cipta dan semangat berinovasi yang hidup di setiap generasi muda Indonesia. 

Kamis, 23 Oktober 2025

SIRAMBI Gelar Lomba CTCF dan Tahfiz Antar SD, MI, dan TPA Mitra Aceh Jaya dan Aceh Barat: Ajang Heboh Anak Desa Tembus Era Digital Magnet Baru Pendidikan Karakter Religius


 Aceh Jaya, 23 Oktober 2025 Siapa bilang sekolah di desa tak bisa berinovasi? Di tengah hamparan sawah hijau Desa Tanoh Anoe, Kecamatan Teunom, gema takbir dan tawa riang anak-anak sekolah dasar berpadu dalam suasana kompetitif penuh makna. SMP Swasta Darun Nizham kembali menggemparkan dunia pendidikan Aceh Jaya lewat Lomba Cerdas Tangkas Cermat Familiar (CTCF) dan Tahfiz Antar SD, MI, dan TPA se-Aceh Jaya dan Aceh Barat.Acara yang digelar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW ini bukan sekadar lomba melainkan gerakan besar pendidikan keagamaan berbasis digital yang kini memasuki tahun ketiganya. Suasananya meriah, peserta dan guru bersatu dalam semangat kebersamaan yang menggemparkan batas desa.


Meskipun anak kampung di lomba ini mampu bersaing di panggung digital, hari kedua lomba berlangsung sengit. Empat tim tampil luar biasa, namun sorotan utama jatuh di TPA Darul Istiqamah Gampong Baroe Teunom yang sukses melesat sebagai juara pertama babak penyisihan. MIN 5 Aceh Jaya menempel ketat di posisi kedua, disusul MIN 12 dan MIN 4 Aceh Jaya.

Menariknya, nilai ketiga sekolah di bawah juara pertama justru lebih tinggi dari juara dua hari sebelumnya! Situasi ini membuat arena lomba seperti “medan perang intelektual”, di mana semangat, sorak, dan strategi berpadu dalam harmoni sportivitas.

“Lomba ini bukan sekedar adu pintar, tapi latihan memperbaiki niat. Kita bermaksud menuntut ilmu bersama, bukan sekedar mengejar piala,” ujar Kepala SMP Darun Nizham, Ridwan, S.Pd.I., MA, M.Pd , yang memandu langsung lomba. Ucapannya disambut tepuk tangan peserta yang membahana di aula sederhana namun penuh energi positif.

SIRAMBI Sekolah Islam Berbasis Industri dari Desa menjadi inovasi unggulan yang digagas oleh SMP Darun Nizham. Ridwan menyebut, kegiatan ini bukan sekedar peringatan Maulid, namun merupakan deklarasi nyata pelestarian nilai-nilai Islam dan budaya Aceh di tengah era digitalisasi.

“Dari desa ini, kami ingin menanamkan karakter religius, kerja keras, dan semangat berkarya yang islami,” tegasnya.

Panitia muda generasi baru juga mencuri perhatian. Muhammad Al-Fatir Muktar, siswa SMP Darun Nizham yang bertugas sebagai kameraman, sempat membuat heboh karena membawa iPhone kepala sekolah yang ternyata menjadi pusat jaringan lomba ke kamar kecil, hingga koneksi sempat terputus. Tapi panitia bergerak cepat memulihkan sistem, membuat penonton tertawa dan berdecak kagum atas sigapnya para siswa panitia.


“Kesalahan kecil bisa jadi pelajaran besar,” ujar Ridwan tenang. “Kami ingin anak-anak belajar tanggung jawab, kepemimpinan, dan gotong royong lewat peran nyata.”

Selain CTCF, lomba Tahfiz menjadi magnet tersendiri. Dipimpin Tgk. Rajudin atau Pak Cek, kegiatan ini memancarkan aura religius yang mendalam. Peserta dari berbagai TPA dan MI menampilkan hafalan yang menakjubkan. Ada yang sudah menguasai satu juz di usia SD, bahkan beberapa mencapai enam hingga tujuh belas juz!

“Anak-anak ini mutiara Aceh Jaya. Mereka bukan hanya menghafal, tapi menghayati,” kata Pak Cek penuh bangga. Setiap peserta yang berhasil menyelesaikan tiga surat wajib diberi piala juara favorit sebagai bentuk penghargaan moral.

Nasyifa Radhida, peserta mungil dari TPA Darul Istiqamah, mengaku ingin membuktikan bahwa anak kampung juga bisa berprestasi. “Kami ingin juara biar orang tahu anak kampung bisa hebat,” ucapnya polos namun penuh semangat.


Guru pendampingnya, Tgk. Abi Helmi, menambahkan, “Kemenangan bukan soal piala, tapi tentang karakter. Mereka belajar berani, disiplin, dan berakhlak.”

Hal senada diungkapkan Rahmaziah, S.Pd , Kepala MIN 4 Aceh Jaya, yang baru pertama kali ikut. “Kami sudah meurajah (belajar) penuh semangat. Walau belum menang, kami senang bisa ikut ajang sehebat ini.”

Ketua panitia Sulaiman, S.Pd. , menjelaskan bahwa CTCF tahun ini dikemas interaktif digital. Peserta pertanyaan menjawab lewat sistem cepat dan tampil di layar utama. “Kami ingin anak-anak belajar memadukan agama dan literasi digital agar siap menghadapi dunia modern tanpa kehilangan jati diri,” ujarnya.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari pengukuhan Inovasi SIRAMBI, penandatanganan MoU dan prasasti oleh Bupati Aceh Jaya, Safwandi, S.Sos , serta penganugerahan 27 tokoh inspiratif dari berbagai sektor, mulai dari pejabat, guru, hingga pelaku industri. Rangkaian puncak dijadwalkan pada 6 November 2025 .

Di akhir kegiatan, suara anak-anak menggema bersamaan dengan semilir angin sore. Banjir yang sempat melanda desa mulai surut, seolah ikut memberi simbol bahwa dari Tanoh Anoe, semangat baru pendidikan Aceh sedang mengalir deras.

“Kami ingin menunjukkan bahwa sekolah desa bisa jadi motor inovasi, bukan sekedar penonton,” tutup Ridwan dengan senyum penuh keyakinan.

Dengan kombinasi religi, digitalisasi, dan karakter kepemimpinan , SMP Darun Nizham membuktikan bahwa pendidikan bermakna bisa tumbuh dari tempat sederhana menjelma heboh, inspiratif, dan mendunia.

Sabtu, 13 September 2025

Rahasia Lolos Seminar Proposal: Kiat Jitu dari Dr. Sehat yang Mengilhami Mahasiswa Program Doktoral


Banda Aceh – (13-09-2025) Perjalanan akademik menuju gelar doktor bukanlah hal yang mudah.  Rintangan terbesar bagi banyak mahasiswa S3 adalah meloloskan proposal disertasinya dalam seminar.  Namun, bagi Ridwan, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) S3 UIN Ar-Raniry Banda Aceh,  rintangan itu terasa lebih ringan berkat perkuliahan dan bimbingan dari Dr. Sehat, Sekretaris Prodi PAI S3 UIN Ar-Raniry.  Kisah inspiratif Ridwan ini menjadi bukti nyata betapa pentingnya bimbingan dosen yang tepat dan metode penulisan yang efektif dalam meraih kesuksesan akademik. Ridwan, dengan raut wajah yang masih mencerminkan kelegaan pasca-seminar proposalnya,  berbagi pengalaman berharga selama perkuliahan bersama Dr. Sehat.  Ia mengaku,  sebelum mengikuti perkuliahan tersebut, ia merasa kebingungan dan tertekan dalam merumuskan kerangka dan teknik penulisan proposal disertasinya.  "Prosesnya sangat melelahkan.  Saya merasa seperti tersesat di hutan belantara tanpa peta," ujarnya mengenang masa-masa sulit sebelum bertemu Dr. Sehat. 

Dr. Sehat, yang dikenal sebagai dosen yang ramah dan berpengalaman,  menyajikan materi perkuliahan dengan pendekatan yang berbeda dari kebanyakan dosen lainnya.  Ia tak hanya sekadar memberikan teori-teori penulisan akademik, tetapi juga berbagi pengalaman pribadi,  tips dan trik praktis, serta strategi jitu yang telah teruji efektif. "Dr. Sehat mengajarkan kami bukan hanya tentang tata bahasa dan kaidah penulisan, tetapi juga tentang substansi dan  signifikansi penelitian.  Beliau menekankan pentingnya merumuskan rumusan masalah yang tajam,  terukur, dan relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan," ungkap Ridwan. 

Salah satu kunci sukses yang diajarkan Dr. Sehat adalah  menentukan topik disertasi yang  sesuai dengan passion dan kemampuan mahasiswa.  "Jangan memaksakan diri untuk memilih topik yang rumit atau di luar kemampuan kita," kata Ridwan menirukan pesan Dr. Sehat. "Topik yang menarik dan kita kuasai akan memudahkan proses penelitian dan penulisan." Lebih lanjut, Dr. Sehat memberikan panduan praktis tentang penyusunan kerangka proposal.  Ia menekankan pentingnya struktur yang logis dan sistematis,  sehingga proposal mudah dipahami dan dinilai oleh tim penguji.  "Beliau mengajarkan kami bagaimana menyusun bab pendahuluan yang menarik perhatian,  bagaimana merumuskan rumusan masalah yang jelas dan terukur,  serta bagaimana merancang metodologi penelitian yang sesuai dengan objek dan jenis penelitian," tambah Ridwan. 

Teknik penulisan yang diajarkan Dr. Sehat juga sangat praktis dan mudah diterapkan.  Ia menekankan pentingnya penulisan yang lugas,  jelas, dan ringkas,  tanpa meninggalkan aspek ilmiah.  "Beliau mengajarkan kami bagaimana menghindari penggunaan bahasa yang berbelit-belit,  serta bagaimana menyajikan data dan temuan penelitian secara sistematis dan mudah dipahami," jelas Ridwan. Yang paling penting, Dr. Sehat juga membiasakan mahasiswanya untuk melakukan riset literatur secara intensif.  "Beliau selalu menekankan agar kita menguasai literatur terkait topik disertasi,  baik dari jurnal ilmiah, buku, maupun sumber lain yang kredibel," ujar Ridwan.  "Penguasaan literatur yang kuat akan memperkuat landasan teori dan argumentasi dalam proposal disertasi." 

Tidak hanya itu, Dr. Sehat juga memberikan bimbingan personal kepada mahasiswanya.  Ia selalu menyediakan waktu untuk mendiskusikan kendala dan kesulitan yang dihadapi mahasiswa dalam proses penulisan proposal.  "Beliau sangat sabar dan selalu memberikan motivasi kepada kami,"  ungkap Ridwan dengan penuh rasa hormat. "Saya merasa sangat terbantu dengan bimbingan Dr. Sehat.  Beliau tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan semangat dan motivasi.  Berkat bimbingan beliau, saya akhirnya bisa menyelesaikan proposal disertasi dan berhasil lolos seminar," kata Ridwan dengan penuh syukur. 

Kesuksesan Ridwan dalam meloloskan proposal disertasinya menjadi inspirasi bagi mahasiswa S3 lainnya di UIN Ar-Raniry.  Kisah ini membuktikan bahwa dengan bimbingan dosen yang tepat,  metodologi penulisan yang efektif,  dan usaha yang gigih,  rintangan dalam meraih gelar doktor dapat diatasi.  Perkuliahan bersama Dr. Sehat tidak hanya sekadar transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga transfer semangat dan motivasi untuk mencapai kesuksesan akademik.  Pengalaman Ridwan ini menjadi bukti nyata bahwa  kesuksesan bukan hanya soal bakat, tetapi juga tentang strategi, bimbingan, dan kerja keras yang konsisten.  Ia berharap agar kisah ini dapat menginspirasi mahasiswa S3 lainnya untuk tidak patah semangat dalam menghadapi tantangan penulisan proposal disertasi.  Menurutnya, dengan persiapan yang matang dan bimbingan dari dosen yang berpengalaman,  kesuksesan bukanlah hal yang mustahil. 

Rahasia Menulis Jurnal Sinta 2: Kiat Sukses dari Profesor Jarjani Alumni Eropa


Fenomena Meningkatnya Permintaan Publikasi Jurnal Sinta 2. Perkembangan dunia akademik di Indonesia tak lepas dari tuntutan peningkatan kualitas publikasi ilmiah.  Jurnal Sinta 2, sebagai salah satu tolok ukur kualitas jurnal nasional, menjadi incaran dosen, peneliti, dan mahasiswa pascasarjana.  Persaingan mempublikasikan karya ilmiah di jurnal bereputasi ini semakin ketat, menciptakan fenomena unik di perguruan tinggi:  lomba menulis yang diwarnai tantangan dan inovasi.  Banyak dosen dan mahasiswa rela meluangkan waktu dan tenaga ekstra demi mencapai target publikasi di jurnal Sinta 2, baik untuk memenuhi persyaratan kenaikan pangkat,  akreditasi program studi, maupun sekadar meningkatkan reputasi akademik. 
Definisi Jurnal Sinta 2 dan Pentingnya Publikasi di Jurnal Tersebut 
Jurnal Sinta (Sistem Informasi Jurnal dan Artikel Ilmiah) merupakan sistem yang dikembangkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) untuk mengklasifikasikan jurnal ilmiah di Indonesia berdasarkan kualitas dan reputasinya.  Jurnal Sinta 2 mewakili kategori jurnal dengan kualitas yang cukup baik,  memiliki proses penyuntingan yang ketat, dan telah terindeks di beberapa basis data internasional.  Publikasi di jurnal Sinta 2 sangat penting karena memberikan pengakuan atas kualitas penelitian, meningkatkan visibilitas karya ilmiah di tingkat nasional maupun internasional, serta berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan di bidang tertentu. 
Tantangan dalam Menulis Jurnal Sinta 2:  Dari SDM hingga Budaya Akademik 
Meskipun peluangnya besar, menulis jurnal Sinta 2 tidaklah mudah.  Banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM), fasilitas, hingga budaya akademik yang masih perlu ditingkatkan. 
  
Sumber Daya Manusia (SDM):  Kurangnya dosen atau peneliti yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam menulis jurnal ilmiah internasional menjadi kendala utama.  Penulisan jurnal berkualitas membutuhkan penguasaan metodologi penelitian yang kuat, kemampuan analisis data yang handal, dan  kemampuan menulis dalam bahasa Inggris yang baik. 
 
Fasilitas:  Akses terhadap literatur ilmiah, software analisis data, dan infrastruktur pendukung penelitian yang memadai menjadi faktor penentu keberhasilan penulisan jurnal.  Banyak perguruan tinggi, terutama di daerah, masih kekurangan fasilitas tersebut. Budaya Akademik:  Budaya tulis-menulis ilmiah yang belum sepenuhnya tertanam di beberapa perguruan tinggi juga menjadi hambatan.  Kurangnya budaya berbagi pengetahuan, kolaborasi antar peneliti, dan mentoring dari dosen senior berpengaruh terhadap kualitas publikasi.  Peran Orang Tua dan Dukungan Keluarga:  Bagi mahasiswa, dukungan keluarga sangat penting.  Menulis jurnal membutuhkan waktu dan tenaga yang ekstra.  Dukungan emosional dan moril dari keluarga menjadi kunci bagi mahasiswa untuk mampu menyelesaikan penulisan jurnal hingga tuntas. 
 
Solusi untuk Mengatasi Tantangan Menulis Jurnal Sinta 2: Insentif dan Pembinaan yang Komprehensif Untuk mengatasi tantangan tersebut, berbagai solusi perlu diimplementasikan secara terpadu. Pembinaan Khusus:  Program pelatihan dan pembinaan khusus tentang penulisan jurnal ilmiah perlu diadakan secara rutin.  Pelatihan ini harus melibatkan pakar penulisan ilmiah dan editor jurnal bereputasi.  Pendekatan mentoring oleh dosen senior kepada mahasiswa juga sangat penting. 
  
Kisah Inspiratif Ridwan, Mahasiswa S3 yang Terinspirasi oleh Profesor Multi-Negara 
Ridwan, salah seorang mahasiswa S3 Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh,  mengungkapkan rasa harunya setelah mengikuti perkuliahan bersama Prof. Dr. Jarjani, seorang profesor yang pernah menempuh pendidikan di Australia, Belanda, dan Amerika Serikat.  "Pengalaman Profesor Jarjani di berbagai universitas ternama di luar negeri sangat menginspirasi," ujar Ridwan.  "Beliau tidak hanya mengajarkan teknik penulisan jurnal, tetapi juga berbagi pengalaman dan strategi dalam menghadapi tantangan selama proses penelitian dan penulisan."  Ridwan merasa termotivasi untuk meningkatkan kualitas penelitian dan penulisannya setelah mendengarkan kiat-kiat praktis dan pengalaman berharga dari Prof. Dr. Jarjani,  terutama  mengenai strategi publikasi di jurnal Sinta 2 dan bagaimana menghadapi proses review yang ketat.  Pengalaman Prof. Dr. Jarjani menjadi bukti nyata bahwa dengan kerja keras, dedikasi, dan strategi yang tepat, publikasi di jurnal Sinta 2 dapat dicapai.  Kisah Ridwan ini menjadi contoh nyata bagaimana dosen berkualitas dan berpengalaman dapat menjadi katalisator bagi kemajuan dunia akademik di Indonesia.  Peran dosen seperti Prof. Dr. Jarjani sangat krusial dalam mencetak generasi peneliti dan penulis ilmiah yang handal. 








Sabtu, 21 Juni 2025

Inspirasi Menggali Potensi Data: Evaluasi dan Statistik Para Praktisi Pendidikan di Pascasarjana UIN Ar-Raniry Dorong Inovasi Sekolah di Serambi Mekkah

Banda Aceh, Aceh – Ruangan dipenuhi semangat intelektual. Peserta dari unsur dosen Unmuha dan kepala sekolah dari berbagai jenjang pendidikan di Aceh berkumpul dalam mata kuliah Evaluasi dan Statistik Program Pendidikan Doktoral S3 Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dibimbing oleh Dr. Duskri, M.Kes (21-06-2025). Bukan sekadar kuliah teoritis, pertemuan ini menjadi wadah pertukaran gagasan dan inspirasi untuk memajukan pendidikan di Aceh melalui inovasi berbasis data. Presentasi dan diskusi yang berlangsung secara dinamis mengungkap pentingnya pemahaman statistik dalam merumuskan kebijakan sekolah yang efektif dan berdampak.

Presentasi pertama oleh Hayail Umroh, S.Pi., M.Pi. (Dosen Unmuha Banda Aceh), fokus pada fondasi statistik pendidikan: korelasi dan regresi. Dengan penjelasan yang lugas dan ilustrasi yang relevan, Hayail menekankan pentingnya memahami hubungan antar variabel. “Korelasi menunjukkan seberapa erat hubungan antara dua variabel, sedangkan regresi mengkaji bagaimana perubahan pada satu variabel mempengaruhi variabel lainnya,” jelasnya. Ia memberikan contoh konkret bagaimana korelasi antara kehadiran siswa dan nilai ujian dapat dikaji, dan bagaimana regresi dapat memprediksi nilai ujian berdasarkan kehadiran siswa. Lebih lanjut Hayail menjelaskan perbedaan krusial antara data nominal, ordinal, dan interval, tiga tipe data dasar dalam penelitian pendidikan. Data nominal mengklasifikasikan data ke dalam kategori (misal: jenis kelamin), ordinal menunjukkan peringkat (misal: tingkat kepuasan), sedangkan interval memiliki jarak yang sama antara setiap angka tetapi tanpa titik nol absolut (misal: suhu Celcius). Pemahaman perbedaan ini, tegasnya, sangat penting dalam memilih teknik analisis statistik yang tepat.

Pertanyaan-pertanyaan cerdas bermunculan dari para peserta. Ahlul Fikri, S.Pd.I., M.Pd (Kepala SMA Aceh Besar), menganalisis hubungan korelasi dan regresi. Hayail dengan sabar menjelaskan bahwa korelasi menunjukkan adanya hubungan, sementara regresi mengukur kekuatan dan arah hubungan tersebut serta memungkinkan prediksi. Diana, S.Pd.I., M.Pd (Kepala SDN 31 Banda Aceh), penasaran bagaimana regresi dapat memprediksi sesuatu dengan baik. Hayail menjawab bahwa akurasi prediksi regresi bergantung pada kekuatan korelasi dan kualitas data. Semakin kuat korelasi dan semakin akurat data, semakin baik prediksi yang dihasilkan. Nazaruddin, S.Pd.I., MA (Kepala SMN 1 Kuta Cot Glie Aceh Besar), mengajukan pertanyaan yang lebih aplikatif: Bagaimana metode atau strategi meningkatkan prestasi belajar siswa? Hayail menyarankan analisis penggunaan regresi untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang melemahkan kuatnya prestasi belajar, seperti kehadiran, motivasi belajar, dan dukungan orang tua, sehingga intervensi yang tepat sasaran dapat dirancang.

Presentasi kedua oleh Musiarifsyah Putra, S.Pd., M.Pd (Asesor), membahas uji ANOVA (Analysis of Variance). Musiarifsyah dengan mahir menjelaskan prinsip ANOVA dalam membandingkan rata-rata dari dua atau lebih kelompok. Ia memberikan contoh bagaimana ANOVA dapat digunakan untuk membandingkan efektivitas berbagai metode pembelajaran terhadap prestasi siswa. Penjelasannya yang sistematis dan mudah dipahami membuat peserta semakin antusias.

Ridwan, S.Pd.I., MA., M.Pd, mengajukan pertanyaan yang menantang: bagaimana penggunaan ANOVA pada penelitian yang melibatkan model belajar, jenis kelamin, dan kemampuan guru, serta bagaimana melihat hasil belajar di berbagai sekolah? Musiarifsyah menjawab bahwa ANOVA dapat digunakan untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap prestasi belajar, dengan mempertimbangkan interaksi antar faktor. Analisis hasil belajar di berbagai sekolah memerlukan teknik statistik yang lebih kompleks, seperti ANOVA dua arah atau model linear umum. Maqfirah, S.Pd.I., MA, menanyakan penggunaan pre-test dan post-test dalam konteks ANOVA. Musiarifsyah menjelaskan bahwa pre-test dan post-test dapat digunakan untuk mengukur perubahan hasil belajar setelah intervensi, dan ANOVA dapat digunakan untuk menganalisis signifikansi perubahan tersebut.

Presentasi terakhir disampaikan oleh Nazaruddin, S.Pd.I., MA, yang membahas uji-t dan Chi-kuadrat. Uji-t digunakan untuk membandingkan rata-rata dua kelompok, sedangkan Chi-kuadrat digunakan untuk menguji hubungan antara dua kategori variabel. Nazaruddin memberikan contoh praktis penerapan kedua uji statistik ini dalam penelitian pendidikan.

Salah seorang peserta, Ridwan, S.Pd.I., MA., M.Pd., mengungkapkan inspirasi yang ia dapatkan. “Materi korelasi, regresi, ANOVA, uji-t, dan Chi-kuadrat sangat bermanfaat untuk penelitian pengembangan inovasi sekolah,” ujarnya. "Saya terinspirasi untuk menerapkan analisis data statistik dengan lebih tepat dalam merumuskan kebijakan sekolah yang efektif dan berdampak bagi kemajuan bangsa." Senada dengan Ridwan, banyak peserta lain mengaku termotivasi untuk lebih mendalami statistik dan menerapkannya dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah masing-masing.

Mata kuliah Evaluasi dan Statistik Pendidikan di UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini bukanlah sekedar transfer ilmu. Lebih dari itu, kuliah ini menjadi wadah untuk membangkitkan semangat inovasi dan mempertajam kemampuan memprediksi arah kebijakan sekolah. Dengan pemahaman yang baik tentang statistik, para kepala sekolah dan pendidik di Aceh dapat menggunakan data sebagai dasar pengambilan keputusan, sehingga tercipta lingkungan belajar yang lebih efektif dan menghasilkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompetitif. Inilah bukti nyata bagaimana pendidikan tinggi dapat berkontribusi langsung dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Semoga semangat inovasi yang tercipta dalam perkuliahan ini dapat menyebar luas dan menginspirasi lebih banyak lagi pendidik di seluruh Indonesia untuk selalu berinovasi dan memajukan dunia pendidikan.

Jumat, 13 Juni 2025

Aroma Kopi Khas Aceh dan Revolusi Pendidikan Inklusi di Resto Paopia Garden Banda Aceh; Semangat Ilmiah Serasa di Tengah Kebun Kopi Aceh

Banda Aceh, Aceh - Aroma kopi robusta Aceh yang pekat, harum, dan sedikit pahit, bercampur dengan semilir angin rasa pegunungan dan beground kebun, menjadi latar belakang tak terduga bagi sebuah revolusi kecil namun berdampak besar: Program Doktoral S3 Mata Kuliah Pendidikan Inklusi (13-06-2025).  Bukan di ruang kuliah yang steril dan formal, melainkan di Resto Paopia Garden Pango, Banda Aceh, sebuah tempat yang dikenal dengan cita rasa kulinernya yang unik,  terselenggara kuliah  Pendidikan Inklusi kelas AGPAI bekerja sama dengan Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh.  Suasana belajar yang dirancang sedemikian rupa,  dengan  desain ruangan empat dimensi yang  dihiasi gambar biji kopi memenuhi dinding dan plafon,  menciptakan ilusi  menakjubkan – seakan-akan para mahasiswa tengah belajar di tengah hamparan kebun kopi yang luas di pegunungan Aceh. Sebuah inovasi yang tidak hanya  menyegarkan,  tetapi juga  memberikan  inspirasi  yang mendalam. 

Di jantung acara ini,  difasilitasi oleh Ibu Dosen Pascasarjana  Dr. Nashriyah,  seorang  akademisi  yang  memiliki  pengalaman internasional,  aktivis perempuan Aceh yang  gigih memperjuangkan perlindungan anak,  dan  pengelola jurnal Sinta 2 berindeks Scopus.  Kehadirannya bukan sekadar sebagai dosen pembimbing, tetapi  sebagai  sumber  inspirasi  dan  motivasi  bagi para mahasiswa untuk  terus  berjuang  mewujudkan pendidikan inklusif  di Aceh dan Indonesia.  Kepakaran dan pengalaman internasional beliau, dipadukan dengan  semangat  perempuan Aceh yang tangguh, menjadi  kombinasi  yang  sangat  kuat  dalam  membangun  generasi  pendidik  yang  berkomitmen pelayanan inklusif.  

Suasana kuliah yang  dirancang  santai dan  nyaman,  jauh  dari  protokol  akademik  yang  kaku, justru  memungkinkan  terjadinya  diskusi  yang  mendalam  dan  bermakna.  Para peserta  merasa  bebas  untuk  mengekspresikan  ide-ide  mereka,  berbagi  pengalaman,  dan  belajar  dari  satu  sama  lain.  Hal  ini  membangun  iklim  kepercayaan  dan  kolaborasi  yang  sangat  penting  dalam  menciptakan  perubahan  di  dunia  pendidikan. 

Dua presentasi draf artikel menjadi  pusat  perhatian  dalam  kuliah  ini.  Siti Halimah, S.Pd.I., M.Pd., Kepala SD Neusok Teubilui Aceh Besar,  yang  menyajikan  draf  artikel  hasil  penelitian  lapangannya  di SD Islam Karakter Harsya Jilingke Banda Aceh.  Penelitiannya  yang  fokus  pada  interaksi  sosial  anak  berkebutuhan  khusus  bukan  hanya  sekadar  data  dan  angka,  melainkan  sebuah  kisah  yang  sangat  mengugah  hati.  Presentasinya  yang  spektakuler  dan  berisi  gambaran  miris  tentang  bagaimana anak-anak berkebutuhan khusus seringkali ditolak  oleh sekolah umum,  menciptakan  gema  pertanyaan  penting:  di  mana  mereka  harus  belajar,  dan  dengan  siapa? 

Siti Halimah dengan lantang mempertanyakan paradigma pendidikan yang masih eksklusif. "Hanya guru istimewa yang menerima anak istimewa,"  ungkapnya,  suara  yang  menggema  di  ruangan.  Ia  mengangkat  isu  kritis  tentang  sekolah  luar  biasa (SLB)  yang  seringkali  dianggap sebagai  satu-satunya  tempat  bagi  anak  berkebutuhan  khusus.  Apakah  kita  benar-benar  yakin  bahwa  sekolah  umum  hanya  untuk  anak-anak  "normal"?  Apakah  kita  menginginkan  sistem  pendidikan  yang  memisahkan  anak-anak  berdasarkan  kemampuan  mereka,  padahal  sejatinya  kebutuhan  dan  potensi  masing-masing  individu  beragam?  Bukankah  kita  semua  akan  mengalami  perubahan  fisik  dan  mental  seiring  waktu?  Mengapa  tidak  semua  sekolah  membuka  pelukan  untuk  melayani  kebutuhan  peserta  didik  yang  beragam?  Pertanyaan-pertanyaan  ini  terus  bergema,  menantang  para  pendengar  untuk  merenungkan  peran  mereka  dalam  membangun  sistem  pendidikan  yang  benar-benar  inklusif. 

Pemateri kedua, Bahrullah, S.Pd.I., MA., Kepala SMAN 1 Lhong Aceh Besar,  menawarkan  perspektif  yang  berbeda.  Beliau  menghubungkan  pentingnya  pendidikan  inklusif  dengan  ajaran  Islam,  dengan  elegan  memaparkan  ayat  dan  hadis  yang  menekankan  pentingnya  keadilan  dan  kesetaraan.  Beliau  menceritakan  kisah-kisah  inspiratif  tentang  orang-orang  yang  memiliki  kebutuhan  khusus  tetapi  mendapatkan  pengakuan  dan  penghargaan  di  masa  lalu,  menunjukkan  bahwa  inklusi  bukanlah  sesuatu  yang  baru,  melainkan  nilai  yang  sudah  lama  ada  dan  harus  terus  diperjuangkan.  Penggunaan  referensi  agama  ini  menunjukkan  bahwa  pendidikan  inklusif  bukan  hanya  sekadar  model  pendidikan,  tetapi  juga  sebuah  amanah  moral  yang  harus  dijalankan. 

Suasana  kuliah  yang  hangat  dan  interaktif  terus  berlanjut.  Diskusi  yang  terbuka  dan  tanpa  hambatan  menciptakan  ruang  bagi  para  peserta  untuk  berbagi  pengalaman,  mengungkapkan  tantangan  yang  mereka  hadapi,  dan  mendapatkan  inspirasi  dari  satu  sama  lain.  Para  peserta,  yang  berasal  dari  berbagai  latar  belakang  dan  wilayah,  menunjukkan  komitmen  mereka  untuk  bekerja  sama  dalam  memajukan  pendidikan  inklusif  di  Aceh. 

Sebuah pemandangan yang menggembirakan seluruh peserta tunjuk tangan terangkat hampir bersamaan,  menunjukkan betapa antusiasnya mereka untuk berpartisipasi aktif dalam sesi tanya jawab. Hujan tangan terangkat bersamaan!  Semua peserta berlomba-lomba untuk bertanya, menunjukkan antusiasme yang luar biasa terhadap materi yang disampaikan.  Kelas pun berubah menjadi ajang diskusi yang seru dan meriah. 

Salah  satu  peserta,  Ridwan,  S.Pd.I.,  MA.,  M.Pd.,  mengungkapkan  perasaannya  setelah  mengikuti  kuliah  tersebut.  "Saya  merasa  haru  dan  terinspirasi,"  ujarnya.  "Kuliah  ini  bukan  hanya  memberikan  pengetahuan  baru,  tetapi  juga  mengugah  semangat  saya  untuk  terus  berkreasi  dan  berinovasi  dalam  memberikan  pelayanan  prima  kepada  peserta  didik  inklusi.  Pendidikan  inklusif  bukan  hanya  tanggung  jawab  sekolah,  tetapi  juga  tanggung  jawab  kita  bersama  untuk  kemajuan  bangsa  dan  negeri." 

Kuliah  S3  Pendidikan  Inklusif  di  Resto  Paopia  Pango  lebih  dari  sekadar  acara  akademik.  Ini  adalah  sebuah  gerakan,  sebuah  seruan  untuk  menciptakan  perubahan  nyata.  Aroma  kopi  Aceh  yang  khas  bukan  hanya  menyertai  proses  belajar,  tetapi  juga  melambangkan  harapan  dan  cita-cita  yang  tinggi:  sebuah  Indonesia  yang  lebih  inklusif,  di  mana  setiap  anak,  terlepas  dari  kebutuhan  khususnya,  memiliki  kesempatan  yang  sama  untuk  berkembang  dan  berprestasi.  Inisiatif  ini  menjadi  bukti  nyata  bahwa  perubahan  bisa  dimulai  dari  ruangan  kecil,  dengan  semangat  yang  besar  untuk  membangun  generasi  masa  depan  yang  lebih  adil  dan  berkeadilan. Semoga ini menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lainnya untuk mengulangi inisiatif yang luar biasa ini. 

Selasa, 03 Juni 2025

Sensasi di Negeri Serambi Mekkah: Kuliah Statistik Pendidikan yang "Heboh", Unik, dan Inspiratif!

Banda Aceh, Inspira Prodoc Media –  Siapa bilang kuliah statistik pendidikan itu membosankan?  Buktikan!  Kuliah Evaluasi dan Statistik Pendidikan bersama Dr. Duskri., M. Kes. di Program Doktor Pascasarjana UIN Ar-Raniry baru-baru ini sukses mematahkan anggapan tersebut.  Bukan hanya materi yang mendalam dan bermanfaat, tetapi kuliah ini dikemas dengan cara yang unik, heboh, dan  sangat menginspirasi para peserta untuk terus belajar, berkreasi, dan berinovasi.  Suasana akademik yang biasanya formal dan kaku, bertransformasi menjadi sebuah pesta ilmu pengetahuan yang menyegarkan! 

Acara yang berlangsung (04-06-2025) itu dibuka dengan presentasi Ahlul Fikri, S.Pd.I., M.Pd, yang membahas  reliabilitas dan validitas tes.  Bukan presentasi yang kering dan membosankan, Ahlul Fikri, seorang akademisi yang energik,  menghidupkan materi dengan ilustrasi-ilustrasi menarik dan contoh-contoh kasus nyata yang mudah dipahami.  Ia dengan cermat menjelaskan bagaimana memastikan sebuah tes benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur, serta bagaimana memastikan konsistensi hasil tes tersebut.  Penjelasan tentang rumus-rumus statistik yang biasanya dianggap rumit,  disampaikan dengan pendekatan yang  mudah dicerna,  dibumbui dengan humor yang menyegarkan, sehingga para mahasiswa merasa tertantang, bukannya terbebani. 

Ahlul Fikri  menekankan pentingnya  desain tes yang baik,  menjelaskan secara detail bagaimana membuat pengecoh (distractor) yang efektif – minimal berfungsi 5% –  dan bagaimana menghitung daya pembeda butir soal.  Ia menggambarkannya bagai seni, bagaimana merangkai butir-butir soal sedemikian rupa agar mampu membedakan siswa yang memiliki pemahaman tinggi dengan siswa yang pemahamannya masih rendah.  Rumus menghitung daya pembeda  – dua kali jumlah siswa kelompok atas yang menjawab benar dikurangi jumlah siswa kelompok bawah yang menjawab benar, dibagi jumlah keseluruhan siswa –  yang terlihat kompleks, disajikan dengan cara yang sederhana dan aplikatif.  Peserta kuliah pun antusias bertanya,  memperlihatkan betapa terpesonanya mereka dengan materi yang disampaikan. 

Sesi berikutnya, yang dibawakan oleh Maqfirah, S.Pd.I., MA,  berfokus pada distribusi dan frekuensi data.  Maqfirah,  dengan gaya penyampaian yang  sistematis dan terstruktur,  menjelaskan secara gamblang konsep distribusi frekuensi,  cara membuat tabel distribusi frekuensi,  dan bagaimana menginterpretasikan data tersebut.  Ia tidak hanya berhenti di rumus-rumus statistik, tetapi juga menekankan pentingnya  visualisasi data.  Dengan diagram batang, histogram, dan poligon frekuensi,  ia memperlihatkan bagaimana data statistik bisa “berbicara” dengan sendirinya,  memperlihatkan tren dan pola yang tersembunyi di balik angka-angka.  Maqfirah juga menjelaskan secara detil bagaimana menghitung panjang kelas dan mengidentifikasi kelas terbesar dalam distribusi frekuensi,  membuka jalan bagi para peserta untuk melakukan analisis data yang lebih mendalam dan komprehensif.  

Namun,  kejutan terbesar dari kuliah ini bukanlah hanya pada materi yang disampaikan, tetapi juga pada cara penyampaian dan suasana yang tercipta.  Kuliah yang intens dan mendalam ini diselingi oleh jeda shalat berjamaah dan makan siang bersama di restoran Cut Mun Lamnyong, sebuah restoran terbuka yang indah dengan pemandangan alam Banda Aceh yang menawan.  Bayangkan:  setelah bergelut dengan angka-angka dan rumus statistik,  para peserta kuliah, dosen, dan profesor-profesor  bersantai menikmati hidangan khas Aceh yang lezat.  Suasana makan siang bersama tersebut bukan sekadar makan biasa.  Ia menjadi ajang pertukaran ide,  kolaborasi antar peserta,  dan  percakapan informal  yang hangat dengan para profesor, termasuk Ketua Prodi S3.  

Salah seorang peserta kuliah yang paling berkesan adalah Ridwan, S.Pd.I., MA., M.Pd.,  mahasiswa program doktor (S3) Kelas Kerjasama AGPAI dengan Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang berasal dari Aceh Jaya dan juga menjabat sebagai Kepala SMP Swasta Darun Nizham.  Ia mengaku terinspirasi untuk terus berinovasi dalam dunia pendidikan setelah mengikuti kuliah tersebut.  "Kuliah ini bukan hanya memberikan saya pengetahuan tentang statistik pendidikan, tetapi juga inspirasi untuk terus belajar dan berkreasi,"  ungkap Ridwan.  "Suasana kuliah yang spektakuler,  diselingi dengan shalat berjamaah dan makan siang bersama,  membuat kuliah ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan dan menyenangkan.  Saya merasa terdorong untuk  terus mengembangkan diri dan  menerapkan ilmu yang saya peroleh untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah saya." 

Lebih lanjut Ridwan menambahkan, “Kuliah ini sangat nyaman dan menyenangkan, memadukan tugas publikasi artikel dengan kolaborasi yang berkelas.  Bisa bercengkrama langsung dengan dosen-dosen dan profesor lainnya, sungguh berharga.”  Ia juga menyebutkan beberapa menu khas Aceh yang disajikan,  antara lain sambal udang, Ayam tengkurap, dan Kuah Beulangong Raja,  menambah kenangan indah selama mengikuti kuliah tersebut. 

Kisah Ridwan mencerminkan  semangat dan  inovasi yang diilhami oleh kuliah  yang tidak biasa ini.  Kuliah Evaluasi dan Statistik Pendidikan di UIN Ar-Raniry tidak hanya mengajarkan tentang angka-angka, tetapi juga mengajarkan tentang kolaborasi,  inovasi,  dan pentingnya  menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan inspiratif.  Ini adalah bukti nyata bahwa pendidikan yang berkualitas tidak harus selalu kaku dan membosankan,  tetapi dapat dikemas dengan cara yang kreatif dan menarik,  sehingga mampu memotivasi peserta didik untuk terus belajar, berkreasi, dan berinovasi,  sekaligus  mengembangkan potensi mereka secara optimal.  Suksesnya kuliah ini  menunjukkan  potensi besar  UIN Ar-Raniry  dalam  mengembangkan  pendidikan  yang  berkualitas dan  inspiratif.  Semoga  model  kuliah  yang  unik  dan  menyenangkan  ini  dapat  diadopsi  oleh  lembaga  pendidikan  lainnya,  sehingga  dunia pendidikan  di  Indonesia  semakin  semangat dan inovatif.