Aceh Jaya, 23 Oktober 2025 Siapa bilang sekolah di desa tak bisa berinovasi? Di tengah hamparan sawah hijau Desa Tanoh Anoe, Kecamatan Teunom, gema takbir dan tawa riang anak-anak sekolah dasar berpadu dalam suasana kompetitif penuh makna. SMP Swasta Darun Nizham kembali menggemparkan dunia pendidikan Aceh Jaya lewat Lomba Cerdas Tangkas Cermat Familiar (CTCF) dan Tahfiz Antar SD, MI, dan TPA se-Aceh Jaya dan Aceh Barat.Acara yang digelar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW ini bukan sekadar lomba melainkan gerakan besar pendidikan keagamaan berbasis digital yang kini memasuki tahun ketiganya. Suasananya meriah, peserta dan guru bersatu dalam semangat kebersamaan yang menggemparkan batas desa.
Meskipun anak kampung di lomba ini mampu bersaing di panggung digital, hari kedua lomba berlangsung sengit. Empat tim tampil luar biasa, namun sorotan utama jatuh di TPA Darul Istiqamah Gampong Baroe Teunom yang sukses melesat sebagai juara pertama babak penyisihan. MIN 5 Aceh Jaya menempel ketat di posisi kedua, disusul MIN 12 dan MIN 4 Aceh Jaya.
Menariknya, nilai ketiga sekolah di bawah juara pertama justru lebih tinggi dari juara dua hari sebelumnya! Situasi ini membuat arena lomba seperti “medan perang intelektual”, di mana semangat, sorak, dan strategi berpadu dalam harmoni sportivitas.
“Lomba ini bukan sekedar adu pintar, tapi latihan memperbaiki niat. Kita
bermaksud menuntut ilmu bersama, bukan sekedar mengejar piala,” ujar Kepala SMP
Darun Nizham, Ridwan, S.Pd.I., MA, M.Pd , yang memandu langsung lomba.
Ucapannya disambut tepuk tangan peserta yang membahana di aula sederhana namun
penuh energi positif.
SIRAMBI Sekolah Islam Berbasis Industri dari Desa menjadi inovasi unggulan yang
digagas oleh SMP Darun Nizham. Ridwan menyebut, kegiatan ini bukan sekedar
peringatan Maulid, namun merupakan deklarasi nyata pelestarian nilai-nilai
Islam dan budaya Aceh di tengah era digitalisasi.
“Dari desa ini, kami ingin menanamkan karakter religius, kerja keras, dan semangat berkarya yang islami,” tegasnya.
Panitia muda generasi baru juga mencuri perhatian. Muhammad Al-Fatir Muktar, siswa SMP Darun Nizham yang bertugas sebagai kameraman, sempat membuat heboh karena membawa iPhone kepala sekolah yang ternyata menjadi pusat jaringan lomba ke kamar kecil, hingga koneksi sempat terputus. Tapi panitia bergerak cepat memulihkan sistem, membuat penonton tertawa dan berdecak kagum atas sigapnya para siswa panitia.
“Kesalahan kecil bisa jadi pelajaran besar,” ujar Ridwan tenang. “Kami
ingin anak-anak belajar tanggung jawab, kepemimpinan, dan gotong royong lewat
peran nyata.”
Selain CTCF, lomba Tahfiz menjadi magnet tersendiri. Dipimpin Tgk. Rajudin
atau Pak Cek, kegiatan ini memancarkan aura religius yang mendalam. Peserta
dari berbagai TPA dan MI menampilkan hafalan yang menakjubkan. Ada yang sudah
menguasai satu juz di usia SD, bahkan beberapa mencapai enam hingga tujuh belas
juz!
“Anak-anak ini mutiara Aceh Jaya. Mereka bukan hanya menghafal, tapi
menghayati,” kata Pak Cek penuh bangga. Setiap peserta yang berhasil
menyelesaikan tiga surat wajib diberi piala juara favorit sebagai bentuk
penghargaan moral.
Nasyifa Radhida, peserta mungil dari TPA Darul Istiqamah, mengaku ingin membuktikan bahwa anak kampung juga bisa berprestasi. “Kami ingin juara biar orang tahu anak kampung bisa hebat,” ucapnya polos namun penuh semangat.
Guru pendampingnya, Tgk. Abi Helmi, menambahkan, “Kemenangan bukan soal
piala, tapi tentang karakter. Mereka belajar berani, disiplin, dan berakhlak.”
Hal senada diungkapkan Rahmaziah, S.Pd , Kepala MIN 4 Aceh Jaya, yang baru
pertama kali ikut. “Kami sudah meurajah (belajar) penuh semangat. Walau belum
menang, kami senang bisa ikut ajang sehebat ini.”
Ketua panitia Sulaiman, S.Pd. , menjelaskan bahwa CTCF tahun ini dikemas
interaktif digital. Peserta pertanyaan menjawab lewat sistem cepat dan tampil
di layar utama. “Kami ingin anak-anak belajar memadukan agama dan literasi
digital agar siap menghadapi dunia modern tanpa kehilangan jati diri,” ujarnya.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari pengukuhan Inovasi SIRAMBI,
penandatanganan MoU dan prasasti oleh Bupati Aceh Jaya, Safwandi, S.Sos , serta
penganugerahan 27 tokoh inspiratif dari berbagai sektor, mulai dari pejabat,
guru, hingga pelaku industri. Rangkaian puncak dijadwalkan pada 6 November 2025
.
Di akhir kegiatan, suara anak-anak menggema bersamaan dengan semilir angin sore. Banjir yang sempat melanda desa mulai surut, seolah ikut memberi simbol bahwa dari Tanoh Anoe, semangat baru pendidikan Aceh sedang mengalir deras.
“Kami ingin menunjukkan bahwa sekolah desa bisa jadi motor inovasi, bukan
sekedar penonton,” tutup Ridwan dengan senyum penuh keyakinan.
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

Terimakasih sukses terus buat semuanya
BalasHapus